Bulan
16 September, di sebuah jalan tol, dalam lembutnya cahaya bulan.
"Bulan malam ini indah ya?" ujarku.
"Hm? Sejak kapan kau suka bulan purnama?"
"Entah, khusus malam ini saja mungkin."
"Hmm.. Kau mengingatnya ya?" aku menoleh ke pemilik suara itu namun ku tetap terdiam.
Perjalanan ini sangat panjang. Duduk di salah satu bangku yang bergerak ini membuat pikiran ku ikut pergi ke sembarang tempat. Terdiam, namun juga bergerak. Mengingatkanku tentang sesuatu.
"Kau tahu, seseorang pernah berkata padaku tentang kita yang sedang berada dalam kendaraan. Garis besarnya tentang benda yang dijatuhkan saat kendaraan ini bergerak akan..."
"Hei, kau mulai melantur!"
"Eh..." Aku menghentikan omongan ku dan memutuskan untuk memalingkan muka. Pertanyaannya itu malas ku jawab sebenarnya.
Pikiranku selalu kembali ke masa itu. Aneh rasanya. Ketika sudah memutuskan dengan siapa aku akan mewujudkan masa depanku, tetapi masih saja ada satu ruang yang tak terusik. Tetap terjaga dengan indah. Terbalut debu-debu kristal, memori tentangnya. Abadi. Ditempa dengan penuh perjuangan, tetapi karena ketidaksabaran hancur menjadi serpihan.
Kisah tentang seseorang di masa lalu. Penyesalan terbesar ku.
Teman perjalanan hidupku kali ini menatapku, menunggu jawaban yang akan ku utarakan. Namun ia menyerah.
"Bulan malam ini membuatmu tersadar. Kau mencintainya dan tak hal ini tidak akan pernah berubah kan?"
Kujawab dengan senyuman. Hanya itu. Aku tak bisa mengelak. Ketika disana ada yang menungguku pulang, tapi tetap saja ada satu bagian yang tak dapat ia rengkuh. Miris.
Sahabatku mengalihkan pandangannya sambil menghela napas.
"Mungkin memang benar apa kata orang. Mengikat diri itu pilihan, sedangkan mencintai itu takdir."
Kami sama-sama menatap ke depan. Perlahan-lahan aku menutup mata sembari berusaha melupakan percakapan kami barusan, atau lebih tepatnya memori ku dengan dia. Mencoba. Sebelum terlambat.
"Bulan malam ini indah ya?" ujarku.
"Hm? Sejak kapan kau suka bulan purnama?"
"Entah, khusus malam ini saja mungkin."
"Hmm.. Kau mengingatnya ya?" aku menoleh ke pemilik suara itu namun ku tetap terdiam.
Perjalanan ini sangat panjang. Duduk di salah satu bangku yang bergerak ini membuat pikiran ku ikut pergi ke sembarang tempat. Terdiam, namun juga bergerak. Mengingatkanku tentang sesuatu.
"Kau tahu, seseorang pernah berkata padaku tentang kita yang sedang berada dalam kendaraan. Garis besarnya tentang benda yang dijatuhkan saat kendaraan ini bergerak akan..."
"Hei, kau mulai melantur!"
"Eh..." Aku menghentikan omongan ku dan memutuskan untuk memalingkan muka. Pertanyaannya itu malas ku jawab sebenarnya.
Pikiranku selalu kembali ke masa itu. Aneh rasanya. Ketika sudah memutuskan dengan siapa aku akan mewujudkan masa depanku, tetapi masih saja ada satu ruang yang tak terusik. Tetap terjaga dengan indah. Terbalut debu-debu kristal, memori tentangnya. Abadi. Ditempa dengan penuh perjuangan, tetapi karena ketidaksabaran hancur menjadi serpihan.
Kisah tentang seseorang di masa lalu. Penyesalan terbesar ku.
Teman perjalanan hidupku kali ini menatapku, menunggu jawaban yang akan ku utarakan. Namun ia menyerah.
"Bulan malam ini membuatmu tersadar. Kau mencintainya dan tak hal ini tidak akan pernah berubah kan?"
Kujawab dengan senyuman. Hanya itu. Aku tak bisa mengelak. Ketika disana ada yang menungguku pulang, tapi tetap saja ada satu bagian yang tak dapat ia rengkuh. Miris.
Sahabatku mengalihkan pandangannya sambil menghela napas.
"Mungkin memang benar apa kata orang. Mengikat diri itu pilihan, sedangkan mencintai itu takdir."
Kami sama-sama menatap ke depan. Perlahan-lahan aku menutup mata sembari berusaha melupakan percakapan kami barusan, atau lebih tepatnya memori ku dengan dia. Mencoba. Sebelum terlambat.
Keren ceritanya, ditunggu cerita selanjutnya ya kak. Saran aja, kalo bisa dibikin rutin ya kak uploadnya NICE :)
BalasHapusTerimakasih kaa, ditunggu yaa =D
Hapus