Percakapan tentang Bulan dan Bintang

Malang, 13 Juli 2018. 21.07

“Kenapa bintang?” tanyanya. “Bukankan bulan lebih indah?” Aku menatapnya dan tersenyum.
“Karena bintang selalu ada dan tetap bersinar. Tak peduli ada yang melihatnya atau tidak, tak peduli ada awan yang menutupinya, ataupun dikalahkan oleh lampu kota, ia selalu ada,”
 “Dan lagi  ia mampu bersinar sendiri. Tak sepertiku yang sekarang.”
Ia menatapku dan mengerjap.
“Tapi, bagaimana jika bulan adalah bintang yang tersesat?”
“Maksudku, ia jatuh hati pada bumi. Namun karena mereka berbeda, semesta melarang mereka untuk bersatu. Dan satu-satunya jalan adalah dengan meninggalkan kehidupannya sebagai bintang, meninggalkan cahaya terangnya, agar ia bisa bersatu dengan bumi.”
Aku meliriknya. Daya imajinasinya masih sama, ia masihlah orang yang kukenal.
“Lalu,” ternyata masih dapat ia lanjutkan.
“Ada campur tangan sang Agung. Ia meminta bintang bernama Matahari, bintang yang paling dekat dengan Bumi, untuk membagi cahayanya kepada bulan,”
“Namun karena Matahari merupakan sumber kehidupan, ia setuju untuk mebaginya hanya pada waktu tertentu saja. Pada saat itulah bumi menyingkirkan awan-awan di sekitarnya, supaya mereka dapat memberi tahu indahnya cinta mereka kepada makhluk-makhluk bumi.”
Aku terbahak. “Ceritamu sungguh romantis,”
“Tetapi berarti malam ini bulan dan bumi sedang bertengkar. Lihatlah awan-awan sampai tidak menyisakan sedikitpun jeda untuk bulan.”
“Eh, iya benar,” ia terlihat bingung sebentar. “Atau mungkin awan sedang cemburu dengan kisah mereka, hehe.”
Kami terkekeh lalu kembali menatap langit dalam bisu.

Komentar

Popular Posts